Senin, 12 November 2012

makalah sejarah penurunan , penulisan dan pengumpulan alqu'an

BABI PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Pada Zaman Rasulullah, Ayat Al-Qur’an tidak dikumpulkan atau dibukunan seperti sekarang. Namun disebabkan beberapa faktor, maka ayat Al-Qur’an dimulai dikumpulkan atau dibukukan, yaitu dikumpulkan didalam satu Mushaf. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Nabi hanya dilakukan pada dua cara yaitu dituliskan melalui benda-benda seperti yang terbuat dari kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelapah kurma, tulang binatang dan lain-lain. Tulisan-tulisan dari benda-benda tersebut dikumpulkan untuk Nabi dan beberapa diantaranya menjadi koleksi pribadi sahabat yang pandai baca tulis. Tulisan-tulisan melalui benda yang berbeda tersebut memang dimiliki oleh Rasulullah namun tidak tersusun sebagaimana mushaf yang sekarang ini. Pemeliharaan ayat-ayat Al-Qur’an juga dilakukan melalui hafalan baik oleh Rasulullah maupun oleh sahabat-sahabat beliau.[ ] Al-Qur’an adalah suatu kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berkelompok-kelompok sejak malam tanggal 17 Ramadhan tahun ke-41 dari kelahiran beliau hingga 9 Dzulhijjah 10 H, dan membacanya bernilai ibadah. Kitab itu kemudian dibukukan dalam sebuah mushaf melalui suatu proses “penukilan” secara mutawatir.[ ] Pesan komunikasi yang telah melewati perantara dari seorang tertahap orang lain, terlebih melewati frekuensi jumlah orang yang banyak akan meragukan keabshahan pesan alsi tersebut. Selain itu, rentan waktu yang cukup lama juga amat berpengaruh terhadap nilai dari pesan. Yang menarik adalah seperti apa membuktikan bahwa pesan Al-Qur’an adalah sesuatu yang telah ditetapkan berdasarkan ketetapan Allah. B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulismerumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana sejarah penurunan Al-Quran 2. Bagaimana sejarah penulisan Al-Qur’an pada masa nabi dan khulafaurrasyidin 3. Bagaimana sejarah pemeliharaan Al-Qur’an C. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah studi kepustakaan. Dengan membaca dari berbagai buku-buku, baik itu buku yang berkaitan langsung dengan ilmu Al-qur’an , ataupun sumber yang secara khusus membahas mengenai proses penulisan Al-qur’an. Selain dari studi kepustakaan penyusun juga melakukan studi literatur dari situs internet yang membahas mengenai sejarah penurunan , penulisan pemeliharaan Al-Qur’an. D. Tujuan Adapun tujuan dri penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Mampu menjelaskan sejarah penurunan Al-Qur’an 2. Mampu menjelaskan sejarah penulisan serta pemeliharaan Al-Qur’an 3. Mampu menjelaskan proses peliharaan Al-Qur’an 4. E. Manfaat Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini adalah : 1. Meningkatkan pemahaman akan pentingnya mengetahui sejarah penurunan, penulisan, dan pemeliharaan Al-Qur’an 2. Meningkatkan mengenai pemahaman tentang hal- hal yang berkaitan dengan ulumul hadits 3. Sebagai bahan mata kuliah ulumul hadits BAB II PEMBAHASAN SEJARAH PENURUNAN, PENULISAN dan PEMELIHARAAN AL-QUR’AN A. Sejarah Penurunan Al-Qur’an Al-Qur’an diturunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai malam 17 ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi, sampai 9 Dzulhijjah Haji wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H. [ ] Proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad ada tiga tahapan, yaitu: 1. Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke laul al-mahfuzh , yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. 2. Al-Qur’an diturunkan dari lauh al-mahfuhz itu ke bait al-izzah (tempat yang berada di langit dunia). 3. Al-Qur’an diturunkan dari bait al-izzah ke dalam hati Nabi dengan jalan berangsur-angsur . Al-Qur’an diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, tidak secara sekaligus, melainkan turun sesuai kebutuhan. Bahkan sering wahyu turun untuk menjawab pertanyaan para sahabat yang dilontarkan kepada Nabi atau untuk membenarkan tindakan Nabi SAW. Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain: a. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. b. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW. c. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng. Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin. d. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli. Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril.[ ] Hikmah diturunkannya al-Qur’an secara berangsur-angsur, antara lain sebagai berikut: 1. Memantapkan hati Nabi 2. Menentang dan melemahkan para penentang Al-Qur’an 3. Memudahkan untuk dihapal dan dipahami 4. Mengikuti setiap kejadian dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at 5. Membuktikan dengan pasti bahwa Al-Qur’an turun dari Allah yang Mahabijaksana. Para sarjana Muslim mengklasifikasikan surat-surat Al-Quran sebagai surat Makkiyyah dan Madaniyyah. Mereka pula mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi Makkiyyah dan Madaniyyah. Keempat perspektif itu adalah: 1. Masa Turun(zaman an-nuzul) Dari perspektif masa turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi itu sebagai berikut: a. Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekah, sedangkan b. Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. 2. Tempat Turun(makan an-nuzul) Dari perspektif tempat turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi itu sebagai berikut: a. Makiyyah ialah ayat-ayat yang turun di Mekah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah, sedangkan b. Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti Ubud, Quba, dan Sul’a. 3. Objek Pembicaraan Dari perspektif objek pembicaraan, mereka mendefinisikan kedua terminologi itu sebagai berikut: a. Makiyyah ialah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Mekah, sedangkan b. Madaniyyah ialah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Madinah. 4. Tema Pembicaraan(maudu) B. Sejarah Penulisan Al-Qur’an 1. Masa Nabi Kerinduan Nabi terhadap kedatangan wahyu tidak saja diekspresikan dalam bentuk hafalan, tetapi juga dalam bentuk tulisan. Suatu hal yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan Al-Qur’an pada masa Rasulullah SAW ini adalah bahwa pada pengumpulan tersebut belum tersusun dalam suatu “mushaf” tertentu, dan surat-suratnya pun belum berurutan sebagaimana yang disaksikan yang sekarang ini. Pencatatan Al-Quran pada masa ini masih tercecer dan berserakan pada pelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang.[ ] Faktor-faktor yang mendorong penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi adalah: a. Mem-back up hapalan yang telah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat b. Mempresentasikan wahyu dengan cara yang paling sempurna, karena bertolak dari hafalan para sahabat saja tidak cukup karena terkadang mereka lupa atau sebagian dari mereka sudah wafat. Adapun tulisan akan tetap terpelihara walaupun pada masa Nabi, Al-Qur’an tidak ditulis di tempat tertentu.[ ] 2. Pada Masa Khulafa’ Al-Rasyidin a. Pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq Pada dasarnya, seluruh Al-Qur’an sudah ditulis pada waktu Nabi masih ada. Hanya saja, pada saat itu surat-surat dan ayat-ayatnya ditulis dengan terpencar-pencar pada pelepah kurma, batu halus, kulit, tulang unta, dan bantalan dari kayu. Abu Bakar kemudian berinisiatif menghimpun semuanya. Usaha pengumpulan tulisan Al-Qur’an dilakukan Abu Bakar terjadi setelah Perang Yamamah pada tahun 12 H. Peperangan yang bertujuan menumpas habis para pemurtad yang juga para pengikut Musailamah Al- Kadzdzab ternyata telah menewaskan 700 orang sahabat penghapal Al-Qur’an syahid. Kekhawatiran akan semakin hilangnya para penghapal Al-Qur’an, sehingga kelestarian Al-Qur’an juga ikut terancam membuat Abu Bakar mengumpulkan Al-Quran dari berbagai sumber, baik yang tersimpan di dalam hapalan maupun tulisan. .[ ] Mushaf yangdi buat pada masa Abu Bakar ini mempunyai beberapa keistemewaan sebagai berikut: 1. Mushaf itu dibuat atas dasar penelitian yang mendetail dan memiliki kemantapan yang sempurna. 2. Yang tercatat dalam mushaf hanyalah bacaan yang pasti dan tidak mengalami nasakh bacaanya. 3. Menurut ijma’, bahwa yang tertulis dalam mushaf itu adalah benar-benar Al-Qur’an. 4. Mushaf itu meliputi qira’ah, sab’ah yang dinukil berdasar riwyatyang benar-benar shahih.[ ] b. Pada Masa ‘Utsman bin ‘Affan Pada masa ‘Utsman bin ‘Affan’ terjadi perbedaan-perbedaan serius dalam qira’at (cara membaca) Al-Qur’an. Selama pengiriman ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan, perselisihan tentang bacaan Al-Qur’an muncul di kalangan tentara-tentara Muslim, perselisihan ini menyebabkan pimpinan tentara Muslim, Hudzaifah, melaporkannya kepada khalifah ‘Utsman dan mendesaknya agar mengambil langkah guna mengakhiri perbedaan-perbedaan bacaan tersebut. Khalifah Utsman berembuk dengan para sahabat senior Nabi, dan akhirnya menugaskan Zaid bin Tsabit “mengumpulkan” Al-Quran. Bersama Zaid, ikut bergabung tiga anggota keluarga Mekah terpandang:’Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-‘Ash, dan ‘Abd Ar-Rahman bin Al-Harits. Inisiatif Ustman untuk menyatukan penulisan Al-Quran tampaknya sangat beralasan. Alasan yang mendasari tersebut dilihat dari perbedaan cara membaca Al-Quran pada saat itu sudah berada pada titik yang menyebabkan umat Islam saling menyalahkan dan ujungnya terjadi perselisihan di antara mereka. Ciri-ciri mushaf pada khalifah Utsman bin Affan yaitu : 1) Semua ayat Al-Quran berdasarkan riwayat yang mutawatir. 2) Ayat-ayat yang dimansukh/dinasakh tidak ada. 3) Surah-surah atau ayat-ayatnya ditulis dengan tertib sebagaimana Al-Quran yang berada ditangan umat Islam sekarang ini. 4) Pendapat sahabat nabi sebagai penjelasa ayat tidak ditulis. 5) Mushaf yang ditulis mencakup tujuh huruf dimana Al-Quran diturunkan.[ ] 3. Penyempurnaan Penulisan setelah Masa Khalifah Mushaf yang ditulis Utsman tidak memiliki harakat dan tanda titik sehingga dapat dibaca dengan salah satu qiraat yang tujuh. Setelah banyak orang non-Muslim memeluk Islam, mereka merasa kesulitan membaca mushaf Utsman itu. Sehingga pada masa Khalifah ‘Abd Al-Malik ketidakmemadainya mushaf ini dimaklumi karena itu pula penyempurnaan mulai dilakukan. Upaya penyempurnaan itu tidak berlangsung sekaligus, tetapi bertahap dan dilakukan oleh setiap generasi sampai abad III H(akhir abad IX M). Upaya penulisan Al-Quran dengan tulisan yang bagus merupakan upaya lain yang telah dilakukan generasi terdahulu. Setelah upaya penulisan Al-Quran itu selesai maka dilanjutkan untuk dicetak dan disebarluaskan kepada umat Islam. Pertama kalinya Al-Quran dicetak di Bunduqiyyah pada tahun 1530 M, tetapi begitu keluar cetakan Al-Quran tersebut segera dimusnahkan oleh penguasa gereja. Kemudian cetakan selanjutnya muncul atas usaha seorang Jerman bernama Hinkelman pada tahun 1694 M di Hamburg(Jerman). Lalu disusul lagi oleh Marracci pada tahun 1698 di Padoue. Dan sungguh sangat disayangkan bahwa perintis penerbitan Al-Quran pertama kali bukan dari kalangan muslim Penerbitan Al-Quran dengan lebel Islam baru dimulai pada tahun 1787. Yang menerbitkannya adalah Maulaya ‘Utsman, cetakan ini lahir di Saint-Peterbourg, Rusia, atau Leningrad, Uni Soviet sekarang. Lahir lagi cetakan di Kazan. Lalu terbit lagi di Iran. Lima tahun kemudian, yakni tahun 1833 terbit lagi mushaf cetakan di Tabriz. Setelah dua kali diterbitkan di Iran, setahun kemudian(1834) terbit lagi cetakan di Leipzig, Jerman. C. Sejarah Pemeliharaan Al-Quran Pada permulaan islam bangsa Arab adalah satu bangsa yang buta huruf amat sedikit di antara mereka yang pandai menulis dan membaca. Mereka belum mengenal kertas, sebagaimana kertas yang di kenal sekarang. Perkataan "alwaraq"(daun) yang lazim pula dipakaikan dengan arti "kertas"di masa itu, hanyalah dipakaikan pada daun kayu saja. Adapun kata "alqirthas" yang daripadanya terambil kata-kata Indonesia "kertas" dipakaikan oleh mereka hanyalah kepada benda-benda (bahan-bahan) yang mereka pergunakan, yaitu: kulit binatang, batu yang tipis, licin pelapah tamar(kurma), tulang binatang dan lain-lain sebagainya. .[ ] Setelah mereka menaklukkan negeri Persia, yaitu sesudah wafatnya Nabi Muhammad shallahu alaihi wa salam, barulah mereka mengetahui kertas. Orang Persia menamai kertas itu"kaqhid", itu pun dipakai pula oleh bangsa Arab semenjak itu. Adapun sebelum masa nabi ataupun di masa Nabi, kata-kata "al kaqhid" itu tidak ada dalam pemakaian bahasa Arab,maupun dalam hadist-hadist Nabi. Kemudian kata-kata "al qirthas" itu pun dipakai pula oleh bangsa Arab kepada apa yang dinamakan "kaqhid" dalam bahasa Persia itu. Kitab atau buku tentang apapun, juga belum ada pada mereka. Kata-kata "kitab" di masa itu hanyalah berarti: sepotong kulit, batu,atau tulang dan sebagainya yang telah bertulis, atau berarti surat, seperti kata "kitab" dalam ayat surat (27) An Naml. .....اذْهَب بِّكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ "Pergilah dengan surat saya,maka jatuhkanlah dia kepada mereka...."... Begitu juga "kutub"(jama' kitab) yang dikirimkan oleh nabi kepada raja-raja di masanya,untuk menyeru mereka kepada Islam. Karena mereka belum mengenal kitab atau buku sebagai yang di kenal sekarang, sebab itu di waktu Al-Qur'anul Karim itu di bukukan di masa Khalifah Utsman bin Affan, mereka tidak tahu dengan apa Al-Qur'an yang telah di bukukan itu akan dinamai. Bermacam-macamlah pendapat sahabat tentang nama yang harus diberikan.Akhirnya mereka sepakat menamainya dengan "Al Mushhaf" (Ism maf'ul dari ashafa artinya mengumpulkan (shuhuf), jamak dari shahifah, lembaran-lembaran yang telah tertulis). Kendatipun keadaan bangsa Arab pada waktu itu masih buta huruf,tetapi mereka mempunyai ingatan yang amat kuat. Pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan sya'ir-sya'ir dari pujangga-pujangga dan penyair-penyair mereka, ansab (sinsilah keturunan) mereka,peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dan kehidupan mereka tiap hari dan lain sebagainya, adalah sebagai hafalan semata-mata. Demikian keadaan bangsa Arab di waktu kedatangan agama Islam itu.Maka dijalankan oleh Nabi suatu cara yang 'amali (praktis) yang selaras dengan keadaan itu dalam menyiarkan Alqur'anul Karim dan memeliharanya. Tiap-tiap di turunkan ayat-ayat itu nabi menyuruh menghafalnya,dan menuliskannya, di batu, kulit binatang, pelapah tamar (pelapah kurma) dan apa saja yang bisa di susun dalam suatu surat. Nabi menerangkan tertib urut ayat-ayat itu. Nabi mengadakan peraturan yaitu Al-Qur'an saja yang boleh dituliskan, selain dari Al-Qur'an hadist atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi, dilarang menuliskannya.Larangan itu dengan maksud supaya Al-Qur'anul Karim itu terpelihara, tidak tercampur aduk dengan yang lain-lain yang juga di dengan dari Nabi. Nabi menganjurkan supaya Al-Qur'an itu di hafal, selalu di baca, dan diwajibkannya membacanya dalam sembahyang. Dengan jalan demikian banyaklah orang yang hafal Al-Qur'an. Surat yang satu macam, di hafal oleh ribuan manusia, dan banyak yang hafal seluruh nya               3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589], 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Karena itu bertambahlah keinginan mereka untuk belajar menulis dan membaca, dan bertambah banyaklah orang yang menuliskan ayat-ayat yang telah di turunkan. Nabi sendiri mempunyai beberapa penulis yang bertugas menuliskan Al-Qur'an untuk beliau.Penulis-penulis beliau yang terkenal ialah Ali bin Abi Tholib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit dan Mu'awiyah. Yang terbanyak menuliskan ialah Zaid bin Tsabit dan Mu'awiyah. Dengan demikian terdapatlah di masa Nabi tiga unsur yang tolong-menolong memelihara Al-Qur'an yang telah di turunkan itu. 1.Hafalan dari mereka yang hafal Al-Qur'an. 2.Naskah-naskah yang di tulis untuk Nabi. 3.Naskah-naskah yang di tulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing Dalam pada itu oleh Jibril diadakan ulangan (repetisi) sekali setahun. Di waktu ulangan itu Nabi disuruh mengulang memperdengarkan Al-Qur'an yang telah diturunkan.Di tahun dia wafat ulangan itu di adakan oleh Jibril dua kali. Nabi sendiri sering pula mengadakan ulangan itu terhadap sahabat-sahabatnya,maka sahabat-sahabat itu di suruh beliau membacakan Alqur'an itu di mukanya,untuk menetapkan atau membetulkan hafalan batau bacaan mereka. Ketika Nabi wafat Al-Qur'an itu telah sempurna diturunkan dan telah dihafal oleh ribuan manusia,dan telah dituliskan semua ayat-ayatnya. Mereka telah mendengar Al-Qur'an itu dari mulut Nabi,berkali-kali,dalam sembahyang,dalam pidato-pidato beliau,dalam pelajaran-pelajaran dan lain-lain,sebagaimana Nabi sendiri pun telah mendengar pula dari mereka. Pendeknya Al-Qur'anul Karim adalah di jaga dan terpelihara baik-baik,dan Nabi telah menjalani suatu cara yang amat praktis untuk memelihara dan menyiarkan Al-Qur'an itu,sesuai dengan keadaan bangsa Arab di waktu itu. BAB III A. Kesimpulan Sejarah Penurunan, penulisan dan pemeliharaan Al-Quran. Al Quran diturunkan kepada nabi Muhammad dengan tiga cara, yaitu pertama malaikat Jibril turun dalam wujud manusianya dan membacakan ayat-ayat Al Quran kepada nabi Muhammad, kemudian beliau mengikutinya. Kedua, adalah Al Quran turun tanpa perantara malaikat Jibril, sehingga tiba-tiba saja ayat-ayat Al Quran tersebut muncul dalam pikiran nabi Muhammad dan yang ketiga adalah Al Quran turun dengan didahului terdengarnya suara gemerincing lonceng yang sangat kuat. Ketika diturunkan satu atau beberapa ayat, Rasul saw langsung menyuruh para sahabat untuk menghafalkannya dan menuliskannya di hadapan beliau. Rasulullah mendiktekannya kepada para penulis wahyu. Para penulis wahyu menuliskannya ke dalam lembaran-lembaran yang terbuat dari kulit, daun, kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma, dan batu-batu tipis. Terdapat 3 unsur yang dapat memelihara Al-Qur'an yang telah diturunkan, yaitu: 1. Hafalan dari mereka yang hafal Al-Qur'an. 2. Naskah-naskah yang ditulis oleh Nabi 3. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing. B. Saran Sebagai penulis mengharapkan kita semua dapat memahami dengan baik begitu pentingnya al-Qur’an di dalam kehidupan umat Islam. Dan kami juga mengharpkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini, kepada teman-teman dan dosen pembimbing agar makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin. Resensi Gozali.2003. Ulumul Qur’an. Surabaya : CV. Indra Media. Syafe’i, Rachmat. 2006. Pengantar Ilmu Tafsir. Bandung: Pustaka Setia. http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur%27an http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur%27an http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur%27an

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar